Kisah Inspiratif Islami ~ Salman Al-Farisi


Salman Al-Farisi merupakan prajurit yang handal dalam melawan musuh-musuh Islam, dia merupakan penemu strategi jitu di saat peperangan Khandaq. Salman Al-Farisi lahir di Persia.

Nama Salman di kenal oleh umat Islam tatkala terjadinya perang Khandaq di tahun ke 5 setelah Hijrahnya Rasulullah beserta umat Islam lainnya ke Madinah. Perang Khandaq adalah perang umat Islam melawan pasukan sekutu yang terdiri dari Bangsa Quraisy, Yahudi, dan Gatafan. Perang Khandaq disebut juga Perang Ahzab, yang artinya Perang Gabungan. Muaranya adalah ketidakpuasan beberapa orang Yahudi dari Bani Nadir dan Bani Wa’il, akan keputusan Rasulullah yang menempatkan mereka di luar Madinah. Dari Bani Nadir adalah Abdullah bin Sallam bin Abi Huqaiq; Huyayy bin Akhtab; dan Kinanah ar-Rabi bin Abi Huqaiq. Sedangkan dari Bani Wa’il adalah Humazah bin Qais dan Abu Ammar.

Kekuatan pasukan kafir Quraisy pada saat itu berjumlah dua pulu emapt ribu pasukan yang di pimpin langsung oleh Abu Sufyan dan Uyainah bin Ishaq bergerak benuju Madinah. Mereka bertekad untuk mengepung dan menghantam kota itu dengan serangan mematikan, agar lepas dari Rasulullah dan Agamanya.

Umat Islam dan Rasulullah panik mendengar penyerbuan yang akan di lakukan oleh orang-orang kafir tersebut, kaum muslimin kemudian menyadari bahwa mereka dalam keadaan bahaya. Maka Rasulullah dengan cepat mengumpulkan para sahabatnya untuk memusyawarahkan kejadian tersebut. Dalam kesimpulannya umat Islam menyepakati untuk berperang dan bertahan di kota Madinah. Tetapi bagaimana caranya untuk bertahan?

Saat itu tampil seorang laki-laki yang berperawakan tinggi dengan rambut lebat. Dia diketahui seorang yang sangat dicintai dan dihormati oleh Rasulullah, dialah Salman Al-Farisi.

Salman sudah mengenal situasi, kondisi, serta letak geografis kota Madinah. Dia pernah memandang kota Madinah dari puncak bukit yang tinggi. Dari sanalah dia tahu bahwa kota Madinah di kelilingi oleh bukit-bukit dan ada celah yang cukup lebar dan memanjang.

Di negara asalnya Persia, Salman cukup banyak memahami berbagai taktik dan strategi, taktik, siasat dan tipuan-tipuan dalam peperangan. Dengan bekal itulah Salman menghadap Rasulullah untuk menghaturkan strategi yang jitu bagi kaum muslim dalam melawan pasukan kafir. Gagasan tersebut adalah menggali sebuah parit yang menutup seluruh bagian-bagian yang terbuka di sekeliling kota Madinah. Akhirnya gagasan itu diterima oleh Rasulullah beserta kaum muslimin.

Kemudian, Rasulullah beserta kaum muslimin keluar dari kota Madinah dan berkemah di salah satu tempat di bukit gunung Sala’ sehingga membelakangi kota Madinah, kemudian mereka mulai melakukan penggalian parit untuk memisahkan antara mereka dan musuh. Saat itu umat Islam berjumlah 3 ribu orang. Nabi mulai membuat peta penggalian; dimulai dari Ajam Syaikhain (benteng yang dekat dengan kota Madinah yang diberi nama Syaikhain) yang terletak di ujung Bani Haritsah; dan memanjang hingga mencapai garis di Al-Madzadz ,dan kemudian lebarnya 40 hasta pada setiap 10 lubang.

Selama membangun parit dalam waktu 6 hari, pertahanan kota di bagian lain diperkuat. Wanita dan anak-anak dipindahkan ke rumah yang kokoh dan dijaga ketat. Bongkahan batu-batu diletakkan di samping parit untuk melempari pasukan lawan. Sementara sisi kota yang tidak dibuat parit, diserahkan pengamanannya pada Bani Quraizah.

Penerapan strategi ini sangat tepat sebab pasukan lawan tidak mengetahui pertahanan menggunakan parit. Sebelumnya, mereka biasa berperang dengan teknik maju-mundur; menyerang, dan lari. Terbukti strategi ini cukup bisa membendung para sekutu. Selama satu bulan penuh, tidak ada kontak langsung antara kedua pihak kecuali saling lempar panah.

Akan tetapi, di waktu penggalian parit berlangsung, tiba-tiba palu terhalang oleh sebongkah batu besar yang sangat sulit untuk gali. Walaupun Salman sangat kekar dia tetap tidak mampu menghancurkan batu tersebut. Kejadian tersebut dilaporkan kepada Rasulullah.

Tatkala mendengar cerita dari Salman, Rasulullah menghampiri batu tersebut dengan memegang palu, Nabi pun menghancurkan batu itu dengan tangannya sendiri. Maka batu tersebut berkeping-keping hancur. Kemudian para sahabat kembali menggali yang telah di tentukan oleh Rasulullah.

Salman merupakan sahabat yang pertama kali menemukan strategi perang dengan menggunakan parit, dalam dunia peperangan bangsa Arab belum pernah terjadi sebelumnya dengan metode atau strategi menggunakan parit, melainkan strategi bangsa Arab sebelumnya menggunakan strategi maju mundur.

Islamnya Salman Al-Farisi merupakan hasil dari pencarian dari sebuah kebenaran yang diyakininya, sehingga dia menemukan suatu agama. Yaitu agama Islam. Sebuah perjalanan yang sampai kepada Allah serta melakukan hukum-Nya dalam kehidupannya.

Pengembaraan Salman Al-Farisi merupakan sebuah pencarian akan kebenaran yang hampir tidak semua orang lain melakukannya. Suatu kesetiaan tanpa batas terhadap fitrah insaniah yang suci. Itu semua yang mendorong Salman Al-Farisi untuk meninggalkan kedua orang tuanya yang kaya raya, menuju masa depan yang belum menentu.

Namun, mata hatinya yang tajam sangat kritis terhadap manusia, agama, paham, dan kehidupan. Selalu kokoh dalam ketetapannya mengambil kebenaran hakiki dengan pengorbanan hingga Salman Al-Farisi di jual sebagai budak. Pengorbanannya kemudian diganjar oleh yang Maha Kuasa, yaitu dipertemukannya dengan rasul pilihan-Nya. Salman Al-Farisi juga di anugerahkan usia panjang hingga dia bisa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bendera Allah berkibar megah di setiap tempat di seluruh penjuru dunia yang penuh hidayah, kemakmuran, dan keadilan.

Keislaman manusia seperti Salman Al-Farisi merupakan kebanggaan tersendiri bagi kaum muslimin. Keislaman Salman Al-Farisi adalah keislaman secara kaffah. Dia tidak peduli terhadap kenikmatan duniawi dan selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan keimanannya luntur. Salma adalah pribadi yang paling mirip dengan Khalifah Umar bin Khathab.

Demikianlah kisah sahabat Rasulullah, Salman Al-Farisi dalam pencarian jati dirinya dan kebenaran yang hakiki, serta strategi perang dengan menggunakan farit. Kisah sahabat Salman Al-Farisi bisa di jadikan ibrah ke semua umat Islam bagaimana dia mencari sebuah kebenaran yang bermuara kepada Agama Islam dan menjalaninya dengan penuh tanggung jawab dalam kehidupannya sehari-hari.

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts

Entri Populer

 

IcyBlue | Copyright © 2009 - Blogger Template Designed By TricksDaddy